Feel free to download. Below is the preview of the document :
Melalui Dharmadesana Mahaguru Lu di LCS Seattle (di Sadhana Yidamyoga Ksitigarbha 3 Februari 2024 penanggalan lokal Seattle), ada topik tanya jawab yang menanyakan apakah saat membaca sutra harus sambil memikirkan artinya, dan sambil diresapi maknanya? Mahaguru menjawab, kalau saat membaca ya fokus di baca saja (mengacu ke saat sedang bersadhana atau di pembacaan sutra di vihara). Boleh mengatur waktu senggang lain yang dikhususkan untuk meresapi maknanya. Karena harus fokus, jadi jika sambil dipikirkan maksudnya apa, ujung-ujungnya jadi tidak fokus dalam pembacaan. Selain itu, tidak semua Sutra mudah dipahami. Jadi, membaca adalah membaca, merenungkan adalah merenungkan, itu adalah dua hal yang berbeda. Atur waktunya untuk fokus ke salah satu saja.
Sutra versi ini khusus disusun untuk membantu pembacaan agar dapat berlangsung lancar (setidaknya mengurangi beban dalam memikirkan “huruf ini harusnya dibaca sebagai apa, bagaimana bunyinya”)
Di bagian mandarin juga sudah ditambahkan mantra pembalas jasa orang tua, mantra penambal kekurangan, mantra paripurna, mantra Sukhavati Vyuha Dharani, mantra Tujuh Buddha masa lampau. Selain itu juga ada penjelasan di dalam Sutra tentang penerima penyaluran jasa kebajikan hanya mendapatkan 1/7 bagian, sedangkan pelaku kebajikan tetap akan mendapatkan 6/7 bagian (lebih jelasnya bisa dilihat di bagian terjemahan Indonesia, sudah digaris bawahi dan dicetak tebal di sana).
Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-306 — “Memahami Perwujudan” (Nature’s Way)
Judul asli: 008 過河的卒子 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第306册 《造化之通》)
Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 29 Maret 2026
Selama suatu kurun waktu, hati saya tidaklah tentram. Saya pernah terpikirkan seperti ini: apakah saya sedang berhalusinasi? Tersesat?
Apakah saya normal?
Pertemuan yang saya alami kok seperti dongeng?
Saya menjalani hidup selayaknya orang normal lainnya, namun saya malah bertemu dengan dunia yang tidak sama (dunia arwah).
Apakah bagus jika begini terus?
Saya tentu saja “yakin” bahwa ada banyak semesta, karena saya telah mengalami sendiri keberadaan dunia arwah secara nyata.
Mahadewi Kolam Yao benar-benar ada.
Mister Sanshanjiuhou benar-benar ada.
Dewa dan Orang Suci lainnya juga sudah saya temui, ini tidak perlu diragukan lagi.
Namun, mengapa harus saya?
Mengapa orang lain tidak bisa?
Mengapa saya bisa?
Saya datang ke dunia manusia, untuk apa?
Suatu malam, saya gundah, pusing tujuh keliling tidak habis pikir. Kemudian, Mahadewi Kolam Yao datang. Beliau membawa saya mengunjungi puncak sebuah gunung besar.
Di sana, ada dua orang Dewa sedang bermain catur.
Satunya adalah Dewa Bintang Kutub Selatan (南極仙翁).
Satu lagi adalah Dewa Bintang Planet Venus (太白金星).
Ada sebuah papan catur di hadapan mereka.
Saya mendengar kedua Dewa sedang bersama-sama melantunkan sebuah syair:
Empat kebenaran tidak lahir dari ‘Aku’,
Pancaskandha jugalah sunya;
Setiap orang bagaikan bidak catur,
Masing-masing orang itu berbeda.
Begitu saya mendengarnya, saya jadi paham bahwa kehidupan manusia itu ibarat bermain catur; nasib setiap orang tidaklah sama, peranan tiap orang berbeda, jodoh karma juga berbeda. Takdir saya berbeda dengan takdir orang lain.
Dewa Bintang Kutub Selatan memandang sekilas ke arah saya, sambil berkata, “Kamu adalah prajurit yang menyeberangi sungai!”
Dewa Bintang Planet Venus juga berkata, “Kamu hanya bisa maju terus!”
Akhirnya saya mengerti. Prajurit yang sudah menyeberangi sungai hanya bisa maju terus, tidak ada jalan untuk kembali.
Maju terus sudah benar!
Saya sudah tidak punya jalan untuk kembali!
Saya menulis sebuah syair:
Karena sudah saling bertemu
Saya serahkan nyawa saya
Saya hanya memohon
Tidak akan saling menunda
Di bawah sinar rembulan sebelum angin bertiup
Telah mengucapkan sumpah janji
Sekarang hanya bisa melangkah maju
Tidak perlu terus bimbang
Jodoh ini adalah Persamuan Para Dewa
Walaupun gugur
Semoga kabar baik jauh bersinambung
Hingga mencapai gua dan melampaui awan
Dunia saha ini
Sama seperti papan catur
Perduli amat akhirnya akan bagaimana
Jalani saja
***
Saya telah memahami ‘sesuai jodoh’, ‘alamiah’, ‘sewajarnya’. Inilah yang mendasari batin saya saat saya beralih dari ‘Ajaran Kristen Protestan’ ke ‘Ajaran Tao’, lalu ke ‘Ajaran Buddha’.
Sebenarnya, ketiga ajaran tersebut adalah ‘demikianlah adanya’, ketiganya sangat bagus, adalah ‘awan’, ‘hujan’, ‘air’.
Disadur dari Buku Karya Shengyen-Lu ke-298 — “Catatan Petunjuk Mimpi” (Revelation of Dream)
Judul asli: 000 花生吊墜 (節錄自蓮生活佛盧勝彥文集第298册 《夢的啟示錄》)
Diterjemahkan oleh: Meilinda Xu, 29 Maret 2026
Suatu hari, saya (Mahaguru Lu) bermimpi dalam tidur. Kejadian di dalam mimpi sangatlah unik, sebagai berikut:
Saya bermimpi, di tengah angkasa beterbangan banyak barang menuju ke arah saya, terbang ke hadapan saya. Setelah mengamati, saya hampir saja tertawa terpingkal-pingkal.
Soalnya, semua barang ini adalah mainan.
Beberapa di antaranya:
Pulpen kaca.
Gantungan kunci minion.
Topi bercorak babi.
Ayam kecil yang bisa glowing in the dark, dan babi kecil yang juga glowing in the dark.
Bros.
Kalung LOVE.
Kotak ajaib doraemon.
Sebuah lukisan asteroid.
Dan lain sebagainya, totalnya berjumlah tujuh belas barang.
Di antaranya, ada sebuah barang yang sangat unik, yaitu gantungan kunci penjepit kacang tanah. Gantungan kunci penjepit ini bisa menjepit kacang kulit, sekali jepit keluarlah dua butir kacang tanah.
Alasan khusus saya memperhatikannya adalah, karena di resleting dompet saya, tergantung sebuah “gantungan kunci penjepit kacang edamame”. Sekali jepit, keluarlah tiga butir kacang edamame.
Hahaha!
Seru sekali!
Saya melihat lagi ke resleting dompet saya, tergantung gantungan kunci penjepit kacang edamame dan gantungan kunci penjepit kacang tanah yang berwarna kuning.
Di dalam mimpi, itulah barang-barang yang saya lihat.
Sebulan setelah bermimpi (saya sudah lupa semua kejadian dalam mimpi tersebut), seorang Siswa bernama Lianhua Ruiling mengirimi saya sepucuk surat dan beberapa hadiah.
Hadiah darinya membuat saya sangat terkejut!
Sebab, barang yang dihadiahkan kepada saya, ternyata semuanya adalah barang yang ada di dalam mimpi saya tersebut.
Saya mau tak mau jadi terpikir.
Lianhua Ruiling memberi saya hadiah, sebulan sebelumnya, saya sudah memimpikan semuanya.
Sebenarnya ada apa?
Lianhua Ruiling sang gadis cilik berkata, “Saya membeli beberapa hadiah untuk Anda, untuk menghibur Anda. Mahaguru Lu gembira, saya juga gembira.”
Ia menulis, “Gantungan kunci penjepit kacang tanah ini bisa dipakai untuk menjepit kacang kulit, kacang tanah akan loncat keluar dari dalam kulitnya.”
Lagi, “Mahaguru Lu suka makan kacang tanah.”
Dan lagi, “Ini merupakan gantungan kunci penjepit yang satu seri dengan penjepit kacang edamame di dompet Mahaguru.”
Ia berkata lagi, “Mahaguru Lu shio ayam, Ruiling shio babi, maka saya beli ayam kecil dan babi kecil.”
Hadiah yang dibeli oleh Lianhua Ruiling, semuanya diberi catatan penjelasan.
Pertanyaan saya adalah:
Mengapa Lianhua Ruiling memberi saya hadiah, saya bisa memimpikannya terlebih dahulu?
Malahan, satu pun tiada yang kurang?
Ada nidana apa antara ‘Lianhua Ruiling’ dan ‘Mahaguru Lu’?
Kita bilang: keinginan menjadi kenyataan.
Namun, saya kan tidak berkeinginan dulu!
Saya sangat ingin bertemu dengan Lianhua Ruiling, ingin memahami misteri dibalik teka-teki ini.
Mengapa seorang gadis cilik menghadiahi saya barang, saya bisa memimpikannya terlebih dahulu?
Di dalamnya pasti ada jalinan jodoh yang luar biasa.
Namun, saya tidak ingin mencari tahu melalui ‘ramalan dewata’.
Saya hanya ingin menggunakan cara normal, secara alamiah, untuk memecahkan misteri kuno berusia ribuan tahun ini.
Terlebih dahulu saya lampirkan sepucuk surat di permulaan artikel ini, kemudian baru saya jelaskan!
Mohon agar Mahaguru memeriksanya:
Belakangan ini, Murid membaca sebuah artikel pembahasan Jalan Kebenaran di sebuah jurnal yang dicetak oleh “Biksu XX”. Artikel tersebut menyinggung mengenai “abhijna (kekuatan spiritual)”. Meskipun artikel tersebut tidak menyebutkan nama Mahaguru, namun digambarkan ibarat ‘pembunuh yang menyamar sebagai rombongan penari profesional’, orang yang paham pasti akan memahami siapa orang yang dimaksudkan dalam sekali baca. Artikel tersebut menegaskan bahwa orang yang mengaku sebagai Buddha Bodhisattva, itu pastilah Mara yang sedang menyamar, kelak akan masuk Neraka.”
Reputasi Mahaguru sudah terkenal di seantero dunia, dihujat dan difitnah bertubi-tubi oleh insan di dunia. Orang yang menghujat menganggap Anda sebagai ‘binatang buas dan malapetaka’, ‘Iblis menempel di tubuh’, ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Namun, Mahaguru, hingga sekarang, Murid tidak pernah melihat ada Guru Bajik ‘kesurupan Iblis dan sesat’ yang tidak pernah putus melatih diri dalam penderitaan, tidak putus membuat karya tulis dan mengutamakan maitri karuna (welas asih), rela mengorbankan diri demi menolong orang lain.
Jika Mahaguru benar-benar sudah ‘kesurupan Iblis dan sesat’, maka itu kemungkinan adalah Mahaguru sudah menyelamatkan terlalu banyak insan, mujizat kekuatan spiritual terlalu dahsyat, misi penyelamatan manusianya telah tak terukur dan terlampau membara, sehingga mengundang rasa cemburu dan kedengkian yang membabi buta dari Mara Langit. Mara Langit masuk ke dalam hati beberapa pelatih diri, sehingga orang-orang ramai menghujat Mahaguru sebagai orang yang ‘kesurupan Iblis dan sesat’. Dengan demikian, Mahaguru telah dihakimi sebagai tokoh simbolik ‘kesurupan Iblis dan sesat’.
Mahaguru, Murid tidak pernah bertemu dengan orang yang sedemikian welas asihnya seperti Mahaguru. Mahaguru rela mengorbankan diri demi umat manusia. Pengorbanan waktu, tenaga, dan konsentrasi Mahaguru yang berharga demi umat manusia sudah melampaui batas seorang manusia normal. Sebegitu banyaknya orang yang mencari Anda untuk meminta tolong, dan Mahaguru menolong semuanya satu per satu, dan tidak pernah meminta balas budi ataupun imbal jasa kepada yang sudah ditolong. Siapa yang sudi mengambil peranan ‘orang bodoh’ seperti ini? Saat ini, banyak pelatih diri yang walaupun penampilan luarnya memuja Buddha dan melatih diri, namun hatinya masih belum bersih dari nama dan tahta, haus reputasi dan haus keuntungan. Selama hati mereka masih belum bisa benar-benar Anatta (Tanpa Aku), mereka tidak memahami karakter dan jati diri Mahaguru, sedikit-sedikit menghujat Mahaguru, bagaimana mereka bisa memupuk ladang kebajikan?
Mahaguru, setiap mengangkat pena, Murid teringat pada budi dan jasa Mahaguru kepada kami sekeluarga. Terutama di saat penyakit Ibunda sedang dalam kondisi gawat. Murid sudah tidak punya jalan keluar, siang malam tidak bisa tidur, teringat mengapa tidak meminta tolong pada Mahaguru? Sehingga, Murid membulatkan hati bertaruh untuk mencoba menulis surat. Saat itu, Murid belum bersarana pada Mahaguru. Bagi Mahaguru, itu bagaikan hanya satu orang di antara jutaan orang yang meminta tolong kepada Mahaguru. Namun tak disangka, dalam waktu tiga minggu, balasan Mahaguru tiba. Yang lebih ajaib lagi, penyakit yang diderita Ibunda menemui titik terang, sembuh sendiri tanpa obat. Ini semua sungguh-sungguh merupakan jerih payah dari Mahaguru, Murid sangat kagum dari lubuk hati terdalam. Mahaguru, jika bukan karena Anda telah memperlihatkan maha abhijna satu kali kepada Murid, keluarga Murid entah akan menjadi seperti apa sekarang!
Sebagai penutup surat, Murid merasa apa yang menimpa Mahaguru sangatlah tidak adil. “Biksu XX” mungkin tidak memahami perasaan seorang anak yang amat sangat mengharapkan pertolongan dari Dewata, yang telah putus asa meminta pertolongan ke segala penjuru namun tidak membuahkan kemanjuran atas penyakit Ibunda yang sudah gawat. Maha abhijna dari Mahaguru selamanya terpatri di dalam hati Murid, dan Murid bersedia memberikan kesaksian untuk Mahaguru. Andaipun hasilnya seperti yang dikatakan oleh “Biksu XX”, memperlihatkan abhijna untuk menolong orang akan mengakibatkan jatuh ke Neraka, Murid rela menggantikan Mahaguru untuk menanggung akibatnya, Murid tidak menyesal.
Mahaguru, bagaimana kabar dan kondisi kehidupan Anda di Amerika? Terpisah berjarak ribuan gunung yang melintang dan samudera yang melintasi, Murid ingin bertemu dan melihat sosok dan suara Mahaguru yang welas asih, namun Murid hanya dapat berharap mampu berjumpa Mahaguru di dalam mimpi saja.
Salam hormat kepada Mahaguru dan keluarga, semoga Mahaguru dan keluarga sehat walafiat dan aman sejahtera.
Salam Hormat dari Murid,
Lianyi
19 Maret 1984
Setelah menerima surat ini, saya merenungkan beberapa hal:
Pertama, saya ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! Tidak ‘kesurupan Iblis dan sesat’ juga tidak apa-apa! ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa, bukan ‘Mara Langit menempel di tubuh’ juga tidak apa-apa. Terserah orang mau berkata seperti apa, sekarang saya sudah tidak merasa heran. Namun saya bukan hidup menyepi karena masalah ini, dan tekad (sradha) saya untuk ‘menolong orang’ juga tidak luntur. Saya ini adalah seorang yang bermental baja dan bertekad baja, tidak patah semangat walaupun telah mengalami kegagalan ratusan kali. Seumur hidup saya dijalani tanpa kata ‘menyesal’. Bagaimanapun juga, saya menggunakan semua cara untuk mencapai tujuan mengikis dan menyelesaikan permasalahan dan kesulitan umat manusia. Jika aktivitas menolong umat manusia terbebas dari penderitaan tersebut dikatakan sebagai aktivitas dari seorang ‘Mara Langit’, maka saya adalah ‘Maha Mara Langit’. Dan walaupun saya adalah ‘Maha Mara Langit’, saya juga tidak menyesal.
Kedua, mengurangi dan menghilangkan derita penyakit orang, tidaklah termasuk “maha abhijna”. Saya hanya menuliskan delapan data kelahiran pasien, membacanya, di depan pelita cahaya persembahan kepada Bodhisattva, lalu saya mengundang ‘wujud astralnya’, kemudian menempelkan tubuh astral pasien ke tubuh saya, jadi yang saya pakai adalah “metode permohonan dengan menempel”, kemudian saya melakukan tiga kali namaskara (bersujud) kepada para Buddha Bodhisattva. Ini adalah menggantikan “pasien” untuk bernamaskara kepada Buddha Bodhisattva.
Kemudian, saya menggunakan kekuatan mantra. Mantra yang dijapa dari dalam hati berubah menjadi mantra berkekuatan besar yang membantu “pasien” terlepas dari penderitaan, menggunakan “metode memutar roda Dharma 1000 kali” dan “mantra memutar roda Dharma 1000 kali”, mengubahnya menjadi cahaya kemujuran, dan mengikis karma “pasien”; ini adalah “metode membuat permohonan” yang mengandalkan “daya pikiran melampaui dimensi”, bukan maha abhijna apa.
“Metode membuat permohonan” yang seperti ini, apakah termasuk menampilkan abhijna? Apakah tidak diperbolehkan? Apakah harus masuk Neraka? Sakit penyakit ibunda Lianyi, disembuhkan dengan cara ini.
Ketiga, Lianyi mengatakan bersedia menggantikan saya masuk Neraka. Saya bilang, tidak perlu. Karma setiap orang ditanggung masing-masing. Dari dalam hati, saya berterima kasih pada niat baiknya, namun saya percaya, ini tidak akan membuat saya masuk Neraka. Saya setiap hari sudah masuk Neraka, karena saya memiliki “daya abhijna”, juga pernah tiba di ‘Istana Raja Naga’, pernah tiba di ‘Neraka’, dan pernah berdharmadesana di ‘Neraka’. Ini adalah kenyataan, bukan ilusi. Di dunia ini, yang dapat membedakan ‘kenyataan’ dan ‘ilusi’ paling jelas serta tidak melekatinya adalah “Vajracarya Lu Shengyan, Sang Sadhaka Rahasya Bermahkota Merah Berpita Suci”. Saya sudah pernah ke Neraka. Saya pergi ke Neraka untuk menyeberangkan insan yang menderita di Neraka. Saya juga pernah bersumpah, kelak saya akan tinggal selamanya di dalam Neraka, selama Neraka tidak kosong, maka saya bersumpah tidak akan mencapai Kebuddhaan. Muladinata saya adalah “Ksitigarbha Bodhisattva”!
Semua orang tahu bahwa perkembangan internet di zaman sekarang sangatlah pesat. Banyak orang yang mengembangkan internet, menciptakan “dunia internet”.
Internet tidak mengenal batas negara.
Apa saja bisa didapatkan di internet.
Tentu saja, kasus perundungan (bully) di dunia internet juga ada. Orang yang mengalami perundungan, nama baiknya akan tercemar.
Ada yang memilih mengendalikan penyebaran berita.
Ada yang memilih menyudahi nyawanya sendiri.
Sudah tentu, saya juga mengalami “perundungan” di internet, oleh karena ada orang yang tidak tahan pada ketenaran orang lain.
Dengar-dengar:
Di Malaysia, ada seorang bermarga Hou memfitnah saya.
Di Singapura, seorang bermarga Yao memfitnah saya.
Di Taiwan, seorang bermarga Yang juga memfitnah saya.
……
Sungguh disayangkan, saya adalah orang yang tidak mengikuti perkembangan internet, bahkan satu huruf di internet pun tidak pernah saya baca. Mengapa?
Seumur hidup, saya tidak punya ponsel.
Saya tidak punya produk galaxy tab.
Saya tidak punya komputer.
(Di segi pengetahuan mengenai komputer, saya adalah orang yang gaptek, sama sekali tidak punya pengetahuan dasar tentang itu).
Ini adalah kehendak saya sendiri.
Karena, saya tidak ingin melewati kehidupan yang terlalu rumit. Saya hanya ingin “bekerja saat matahari terbit, kembali beristirahat saat matahari sudah terbenam”.
Saya hanya ingin:
“Hidup sehari, berbahagia sehari.”
“Hidup sehari, bersyukur sehari.”
“Hidup sehari, berbhavana (melatih diri) sehari.”
Ada seorang Profesor yang bernama You Jiangcheng berkata, “Sudah sangat lama, asalkan mengetik ‘Lu Shengyan Tantrayana Satya Buddha’, akan muncul sangat banyak berita negatif. Semua kata fitnahan di internet bermunculan satu per satu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Ada yang bertanya, “Fitnah itu seperti apa?”
Saya menjawab, “Lebah memanen madu.” (Cuma salah satu hal yang umum.)
Tanya, “Apakah nama baik tercemari?”
Jawab, “Saya tidak tahu tercemari atau tidak.”
Tanya, “Kenapa demikian?”
Jawab, “Bahkan tubuh fisik itu juga sunya adanya, dimanakah nama baik bisa melekat?” (Saya adalah orang yang tidak peduli nama baik.)
Tanya, “Seperti apakah orang yang tidak peduli nama baik?”
Jawab, “Tiada aku, tiada nama, itulah orang yang bahagia.” (Oleh sebab tiada ego dan tiada reputasi, maka lebih bahagia.)
Tanya, “Mahaguru Lu menolong umat melalui upaya kemudahan (abhijna), lalu kemudian Mahaguru menuai fitnahan, apakah Mahaguru Lu juga tidak gusar dan tidak marah?”
Jawab, “Murid saya memenuhi seluruh penjuru bumi, namun berapakah yang benar-benar memahami saya? Jangan-jangan setengah orang pun tidak ada.” (Oleh sebab insan pada dasarnya avidya, sehingga tidak gusar dan tidak marah.)
Tanya, “Ada fitnahan, bagaimana mengatasinya?”
Jawab, “Banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana cara mengatasinya.”
Tanya, “Jika sudah menemukan cara mengatasinya, lantas bagaimana?”
Jawab, “Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan! Tidak usah dipedulikan!”
(Mahaguru Lu berkata, selain “tidak usah dipedulikan”, apakah para Siswa Budiman memiliki strategi yang jitu?)